Mitos Tentang Peran Pemuda 35

Jumat, 30 Jul '10 20:47, dibaca 194 kali

What does not destroy me, makes me stronger ( Friedrich Nietzsche)

 

 

Idiom pemuda, biasanya jadi komoditas laik jual saat Pemilu Nasional atau Pilkada, isunya jamak yaitu soal peluang suksesi tahta. Kalau coba kita tengok sejarah, label pemuda ini lazim disematkan pada anak muda ( 20- 40 tahun) yang berpolitik ( paham, sadar, dan berpartisipasi aktif dalam bernegara). Kebangkitan Nasional ada para "pemuda" disitu, Sumpah Pemuda bahkan di judulnya ada kata "pemuda", dentuman besarnya pada Revolusi 1945, yang Ben Anderson bilang itulah Revolusi Pemuda.

Kenapa disebut mitos ? Karena memang setiap perubahan sosial cenderung terdapat keberadaan anak muda di dalamnya, aspek semangat dan intelektualitas terutama. Akan tetapi, jika mereduksi komponen revolusi hanya pada para "pemuda" ini, apalagi membuat mereka menjadi satu- satunya pemicu, maka disitulah letak kekurangtepatannya. Tidak mungkin sebuah pemerintahan rezim runtuh hanya karena gerakan "pemuda" saja, realitasnya, banyak kekuatan lebih besar lain yang ikut bermain dalam tumbangnya rezim, walaupun mungkin sengaja tidak memperlihatkan jati dirinya.

Akhir- akhir ini, malah terjadi pendefinisian ulang akan label "pemuda" ini. Label ini digeser dengan istilah pelajar dan mahasiswa untuk menyebut anak muda yang berusia di bawah 30 tahun dan berpikir serta berniat dalam kehidupan bernegara. Sebenarnya, pergeseran label ini memang cukup mendasar sebabnya, para "pemuda" momen 1908, 1928, dan 1945 identik dengan mahasiswa sekarang, yaitu mendapat akses pengetahuan luas, terdidik, dan relatif dari kalangan mampu secara ekonomi. Namun, sebenarnya ini adalah gejala elitisme, yaitu penyempitan terhadap golongan yang aktif berpolitik. Selain itu, akses pengetahuan sekarang bisa dikonsumsi begitu mudahnya, asalkan orang muda yang tidak kuliah mau belajar, dia bisa menjadi intelektual. Belum tentu juga mahasiswa mau memanfaatkan kemudahan akses pengetahuan dan didikan di kampusnya untuk lebih memperadabkan kehidupan bernegara bukan ?

Lalu, jika memang Revolusi 1945 dilabelkan Revolusi Pemuda, apakah peta kekuatan saat itu memang didominasi anak muda intelek semua ? Apakah anak muda intelek juga semuanya pro dengan lahirnya Republik Indonesia di Nusantara ? Seorang ahli hukum Indonesia, penasehat Pemerintah Hindia Belanda, membagi kekuatan politik menjadi tiga besar, yaitu : Pertama, loyalis Pemerintahan Hindia Belanda, yang rata- rata terdidik dengan pendidikan barat, berkedudukan sosial ekonomi mapan, dan diperlakukan setaraf dengan orang Belanda. Mereka paham nasionalisme, tetapi nyaman dengan suasana kolonial. Kedua, subversif dan kontra Pemerintahan Hindia Belanda, yang terdidik dengan pendidikan barat, tidak menempati kedudukan sosial ekonomi mapan dalam negara kolonial, dan paham nasionalisme. Jumlahnya sekitar 500,000. Dan ketiga, bagian terbesar masyarakat yang acuh tak acuh dengan keberadaan Pemerintahan Hindia Belanda, dan mereka ini yang berpeluang besar merintangi usaha Pemerintah Hindia Belanda kembali bercokol di Nusantara, yang waktu itu Dai Nippon diambang kekalahan. Dai Nippon dapat memicu gelora semangat penduduk nusantara dan golongan intelektual subversif untuk membangun negara independen, walaupun sesungguhnya mereka punya niat sama seperti Pemerintahan Hindia Belanda, tidak berniat sungguh- sungguh memberi kemerdekaan.

Kalau sudut pandangnya adalah revolusi sosial, kita coba bandingkan Revolusi Indonesia dengan Revolusi Perancis, yang seringkali mengilhami para "pemuda" di Nusantara kala itu. Komponen pemicu utama Revolusi Perancis adalah Kaum Borjuis, yang terbagi menjadi tiga; Borjuis atas, para industrialis dan bankir, lalu Borjuis menengah, usahawan menengah dan kaum profesional, serta Borjuis bawah, pegawai subsisten yang hanya punya dana untuk kehidupan sehari- hari. Golongan ketiga ini yang paling militan dan menjadi motor massa dalam gerakan. Sedangkan Revolusi Indonesia, dipicu oleh para mahasiswa, dan intelektual muda, yang mulai sadar nasionalisme pasca terbukanya akses pendidikan dan pengetahuan dari barat.

Perbedaan ini sangat mendasar justru terlihat pada perkembangan stabilitas kenegaraan pasca revolusi, di Indonesia, yang pelakunya adalah para "pemuda" ini, mereka belum masuk ke proses produksi atau transaksi ekonomi riil apapun, dan selalu bisa berteriak bahwa revolusi belumlah selesai. Sedangkan di Perancis, golongan borjuis rendah yang jumlahnya terbesar serta paling militan, mulai bosan dan tidak sabar dengan ketidakstabilan politik, pada jamaknya, golongan ini diricuhi anak dan istrinya untuk lebih menyelesaikan masalah pangan keluarga yang tidak terselesaikan dengan revolusi politik. Intinya, Revolusi Perancis berhenti karena masyarakatnya memang sudah bosan dengan gejolak politik yang menghambat aktivitas ekonomi, dimana aktivitas ekonomi berurusan dengan perut.

Orde Baru yang 32 tahun berkuasa menekankan pada stabilitas politik, berikut kontinuitas. Terlihat dari hirarki ketat di militer, politik, dan birokrasi. Para "pemuda" ini tidak memiliki tempat di hirarki manapun, kalaupun mau ikut sistem, maka harus dimulai dari bawah. Ada yang unik dengan momen dentuman sosial revolusioner yang dimotori oleh para "pemuda", yaitu legitimasi angkatan. Ada angkatan '28, '45, '66, '78, dan '98, yang seolah- olah membuat "pemuda" ini menjadi akses plus mendapat saluran cepat untuk kedudukan politis tertentu. Bahkan sudah ada rahasia umum bahwa legitimasi angkatan "pemuda" ini, menjadi kendaraan buat para oportunis politik yang mengambil jalur cepat sebuah kedudukan di sisi tahta utama.

Sebenarnya, keresahan utama anak muda ada di satu saluran : mobilitas sosial masyarakat Indonesia. Mobilitas vertikal sebenarnya bisa disalurkan lewat jalur ekonomi, itu yang terjadi di anak muda daerah Eropa Barat, Amerika Utara, dan Asia Timur jauh yang memang budaya ekonominya sudah terbentuk baik dan pengetahuan memang benar bisa dijadikan nilai tambah ekonomi signifikan. Masalahnya, saluran ekonomi sempat tertutup di masa Orde Baru, dan sekarang para "pemuda" ini masih menganut paradigma lama, bahwa satu- satunya mobilitas vertikal adalah jalur politik, maka tidak heran jika menjamur politisi yang tidak kompeten tetapi bisa duduk jadi pengambil kebijakan. Tidak juga terpikir untuk terjun menjadi praktisi ekonomi riil aktif ( entrepreneur) dengan pengetahuan yang dimiliki, karena budaya kemapanan pola lama masih terpatri kuat di benak para "pemuda" ini. Membangun perusahaan dari nol dengan menghadapi ketidakpastian berikut kalkulasi resiko tingkat tinggi, bukan pilihan yang cukup "aman".

Bagaimanapun, konsekuensi dari tekad para "pemuda" pendahulu kita yang memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia ini adalah kemandirian yang menyejahterakan bersama. Tidak lucu jika keadaan Nusantara ternyata lebih teratur dan rapi saat dikelola Pemerintah Hindia Belanda daripada Pemerintah Indonesia, karena berarti itulah tanda bahwa Nusantara tidak siap menerima konsekuensi logis dari kemerdekaan itu sendiri. Dan, dengan akses pengetahuan yang begitu luas sekarang, berikut kesempatan mencuri ilmu dari peradaban lain yang dirasa lebih maju, serta keterbukaan lapangan ekonomi dibanding masa Orde Baru, maka sebaiknya para "pemuda" sadar diri, mau mengukur dirinya, serta berani berdiri dengan pengetahuan serta optimis realistis dengan masa depan. Tidak menganut aji mumpung, "Mumpung Masih Muda", atau 'Mumpung Mahasiswa", dan segala pembenaran lain, mengisi momen kemudaan usia dengan karya nyata, kreativitas penuh keberanian, dan kemampuan menjadi diri sendiri, nampaknya keren juga menurut saya, bukan begitu Sobat ?

Diekstrak dari :

Ong Hok Ham, Wahyu yang Hilang Negara yang Guncang

NB : Soal pemerintah saat ini, saya belum mau komentar dulu, sudah terlalu banyak yang mengomentari, maaf.


Tag: Ekonomi, sejarah, politik, pembangunan, mahasiswa, nasional, masa depan, pemuda, Merdeka, pengetahuan, testosteron, gerakan pemuda, optimisme

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

aboeprijadi.s. 0 0
Artikel ini bagus. Bagus semangatnya: semangat kritis. Sebab logisnya memang generasi selalu akan beralih, berganti, jadi tak ada yang perlu istimewa dengan re-generasi, jadi juga tak perlu signifikansi khusus bila generasi baru, generasi pemuda, tampil.

Maka apabila sejumlah peneliti menunjuk pada sifat dan peran pemuda, menurut hemat saya, maskudnya adalah adanya semangat khusus yang menonjol. Celakanya sekali menonjol, lalu diterus2kan, seolah pemuda selalu unik.

Ben Anderson, Onghokham dll menulis tentang peran signifikan pemuda katrena waktu itu mereka tampil di depan saat usia tokoh seperti Sjahrir, Adam Malik dsb masih antara 25-30an. Selain itu ada semangat juang yang gigih, yang menurut Onghokham berakar juga di pedesaan, yaitu semangat jago.

Tpi kedua aspek ini tidak bisa diasumsikan akan terus seperti itu pada masa generasi generasi setelahnya. Bahkan di sisi lain kepemudaan, kejagoan itu banyak yang beralih menjadi keganasan, kefasisan setelah semangat juang yang digembleng Jepang pada PETA itu pudar, dan kelak mereka menjadi jenderal fasis di bawah Orde Baru dsb.

Jadi, benar, tak perlu mengasumsikan adanya semangat dan peran khusus pemuda yang berkepanjangan menembus zaman demi zaman. Kita lihat banyak pemuda dengan semangat menjatuhkan Orde Lama juga kemudian menjadi centeng centeng politik alias oligarkh oligarkh di Golkar, dst.

Kalau maksud Bung untuk memfokuskan kepemudaan pada masa atau aspek tertentu, ya saya setuju. Semangat juan kepemudaan yang ultra nasionalistis kelak bisa menjadi embrio fasis.

Tabik hangat, Bung
free7 0 0
Jadi teringat mitos keperawanan
zizix 0 1 tidak suka |
negri ini penghunix tua renta semua kok
gax ada pemudax, anak2x, apalagi bayi2x
generasi yang hilang (loss generation)
Maximillian 0 0
aboeprijadi.s.: Kita baru tahu apa yang sudah kita perbuat biasanya memang setelah momen terlewati Oom.

Dan buat pelaku lapangan, seringkali keputusan yang dibuat memang situasional saat itu, namun seringkali penulis melakukan hiperbolisme dan dramatisasi. Konstruksi label pahlawan atau pemuda memang sengaja dibentuk untuk maksud tujuan tertentu, oeh si pembuat idiom.

Muda dan dewasa, itu lebih moderat dan realistis menurut saya, dari definisi manapun, terserah.

Salam kenal Oom Aboe
Maximillian 0 0
free7:

Would you mind to explain it Sir ? Something related to this keperawanan thing should be sexy

: )
Maximillian 0 0
zizix:

Bisa sebutkan angkanya ? Trims
zizix 0 1 tidak suka |
Maximillian: hsil snsus pnduduk indonesia 2010 mmbuktikan klau pnduduk indon trnyata rta2 brusia NON PRODUKTIF

http://www.bps.go.id/
Maximillian 0 0
zizix: Nais inpoh Gan
bung jopi 0 0
ini bukan mitos tapi realitas..perubahan dunia i pelopori orang muda........yaaaaaaaa keren sobat
free7 0 0
Maximillian

Hehe..just saying , not important : D , I've read that in 1966, When Soekarno's fall from power . At that time Indonesia's position still rich and virgin, with foreign debt only 2.5 billion USD, the power of the number two most powerful armies in Asia, natural resources and virgin forests were still completely untapped and untouched by foreign capital.

ria dj 0 0
Definisi pemuda menurut
PBB: 15-24 thn
Bank Dunia: 12-24 th
Menpora: 15-24 thn
Karang Taruna: 11-45 thn
bung jopi 0 0
ria dj: menurut saya gak mengenal umur selagi ada semangat membara...ya muda
Maximillian 0 0
ria dj:

[Karang Taruna: 11-45 thn ] Hah ?!!!
Maximillian 0 0
free7:

So, now Indonesia isn't virgin anymore and foreign capital took Indonesia's virginity, am I right ?

The conclusion is : "We've to maintain our virginity"

: D
Fight For The Future 0 0
ria dj: And according to KNPI's standard? : D
Maximillian 0 0
free7:

I thing, virgin is sexier than not virgin, how about you ?

But, how about Dutch Indies ? They took our virginity too, right ?
Maximillian 0 0
Fight For The Future:

What ? Really ? How come ? So, this "Youth" thing is a kind of sexy label in Indonesia....

It's just label, definitely
Fight For The Future 0 0
Maximillian: [But, how about Dutch Indies ? They took our virginity too, right ?] They bought it from Indonesian kings. In other words, those Raja-raja Nuswantara were pimps.
Subroto 0 0
Woi.. bahas pemuda.... atau pemudi?


; ))
Fight For The Future 0 0
Maximillian: Well, when as a ten-year-old kid I saw some KNPI members, my first impression was that some of them were old enough to be my father's youngest uncles. : D
Maximillian 0 0
Fight For The Future:

Pimp with pride, rocks !

: )) : )) : )) : ))


Subroto: Pemudi is much better Sir, in my perspective, obviously.
Maximillian 0 0
Fight For The Future:

So, back to current situation. When the government stupid enough to sign some contract regarding Freeport or another public project, with bad transaction, that's another pimplike , right ?

What a pimp !! They just sold our asset so cheap. OMG OMG OMG
ria dj 0 0
Maximillian: sekarang pengurus Karang Taruna banyak yang bapak-bapak, eh, pemuda 40-an


Fight For The Future: menurut KNPI 16-30 tahun

bung jopi: itu namanya semangat muda, bukan pemuda/i.... hehe
ria dj 0 0
zizix: (negri ini penghunix tua renta semua kok
gax ada pemudax, anak2x, apalagi bayi2x
generasi yang hilang (loss generation)

Usia produktif itu 15-64 tahun tdk sama dengan pemuda.

(hsil snsus pnduduk indonesia 2010 mmbuktikan klau pnduduk indon trnyata rta2 brusia NON PRODUKTIF. http://www.bps.go.id/)

Wah, Anda pembohong....
Maximillian 0 0
ria dj:

Jadi, kesimpulannya : KNPI, Karang Taruna, Kosgoro, HIPMI, atau apapun yang ada label "pemuda" atau "muda", pada hakekatnya adalah saluran cepat untuk segera meraih posisi di lingkaran tahta, begitu Ibu Ria ?

Semoga Pramuka tidak ikut- ikutan jadi seperti mereka, saya berdoa. ( Ada "Muda" di kepanjangannya)
ria dj 0 0
Maximillian: Oh, jelaaaaas..... makanya saya kasih rating pentiiiing. Jgnkan yg labelnya "pemuda", yg labelnya "pelajar" dan "mahasiswa" aja dah gak ada yg beda skarang....

Pemuda harapan bangsa menjadi pemuda harapkan bagian.... (kebagian nama, kekuasaan, duit, koneksi).
Maximillian 0 0
Maximillian:

Masalahnya sangatlah rumit Bu Ria. Kawan- kawan saya di BEM, dan senior kita melakukan modus yang sama, itu lazim sekali nampaknya. Soal apakah itu etis atau tidak, saya tidak mau menghakimi.

Namun, pandangan subjektif saya yang baru 1 tahun keluar dari kategori "pemuda" versinya PBB, saluran mobilitas vertikal di Indonesia, untuk anak muda memang terfokus di ekonomi, sebagai profesional upahan, atau militer.

Bapak, Paman, Kakek kita kasih contoh nyata tentang modus bisnis ala tadahan proyek ( konstruksi biasanya), atau jalur cepat jadi selebritis politik, yang itu dianggap lazim.

Saya sendiri masih berpendapat bahwa transformasi sosial ke depan, menuju peradaban yang memang memanusiakan manusia, di Republik ini, masih panjang, butuh kerja pendewasaan lama. Apalagi melihat keadaan saat ini.

Tabik
Maximillian 0 0
ria dj:

Oh iya, saya pernah daftar HIPMI, begitu tahu budayanya, langsung cabut nggak mau nengok lagi, hahahahaha....Ternyata oh ternyata, sooo pathetic !!

: )) : )) : ))
ria dj 0 0
Maximillian: kebanyakan diwarnai partai.... ampe jadi ketua alumni aja disponsori partai.

Saya kira itu saluran yg wajar buat yg milih jalur ini. Dulu saya sih milih kelompok diskusi di kampus, ketimbang organisasi mhsw.....
GusBushTom 0 0
gue rating bagus untuk fotonya
coz ada adik sepupu gue di situ
nomor dua dari kiri

he.e.e..e.
: D
Maximillian 0 0
ria dj:

IA almamater saya juga partaiwan, malahan ngeborong menteri, sekarang jadi menko dobel ketua partai lagi...Duh, nggak bangeet...Soalnya, pas jadi menteri pun kinerjanya nggak jelas...Ah, sudahlah...

GusBushTom: Whoaaaa, reallllllyyyy ? Awesome dude ! Congratz for him.

: ))
neilhoja 0 0
soo inspiring...


saatnya kembali ke jalur pemuda idealis. : D
Maximillian 0 0
neilhoja:

Lebih tepatnya, saatnya menjadi diri sendiri, apapun label yang orang lain berikan

: D
neilhoja 0 0
Maximillian: hm.... teori identitas? : D
Maximillian 0 0
neilhoja:

Yup, sebagai pengonsumsi tulisan Ibn Taimiyah dan Roland Barthes, identitas ini komoditas abstrak yang sering dicuri, kalau kita tidak menyadarinya.

Begitulah...

Silahkan login untuk memberikan pendapat