Warga Arab di Nagev Hidup Tanpa Air 25

Selasa, 9 Feb '10 11:45

Di sejumlah Negara yang normal dimana kesejahtaraan warganya terjamin, air merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi suata Negara bagi rakyatnya

.
Namun di Israel, air dijadikan alat untuk melakukan penekanan politik. Ratusan warga Arab Nagev hidup dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan, tapa infra setruktur maupun jaringan air minum.

Berdasarkan hasil kajian departemen kesehatanny menunjukan kondisi ini dialami sebagian besar keluarga di Nagev. Banyak diantara mereka yang mengidap penyakit cholera, dysentery dan Tipus.

Kondisi ini sebagai akibat dari kebijakan air Zionis, dua tahun yang lalu. Yang melarang aliran air ke wilayah yang belum terorganisir. Masalah inipun telah diajukan ke mahkamah urusan air Israel. Akan tetapi, hakim Roni Shabera menolak pengaduan ini. Akibatnya peraturan tersebut dilakukan pemerintah distrik.

Dijelaskan, bahwa undang-undang yang dijadikan landasan bagi direktorat urusan air itupun dilakukan tanpa sebab-sebab. Pada saat dimana direktorat ini terbatas hanya memberikan rekomendasi saja.

Dengan demikian undang-undang lalulintas air tidak berdiri sendiri, mengingat tak ada alasan sama sekali tentang keputusan itu yang bisa dibenarkan.

Masalahnya tidak berhenti sampai di sini. Ada dugaan serius bahwa sejumlah pertimbangan yang dijadikan acuan oleh direktorat air Zionis merupakan alasan politis. Maka klaim mereka menunjukan direktorat air bekerja atas perintah otoritas al-Badwi. Siapapun yeng mencermati kondisi Nagev akan tahu, bahwa direktorat adalah lembaga pemerintah. Sejak awal pembentukannya memang untuk mengusir bangsa Arab yang hidup di kampung-kampung yang tak dikenal. Kemudian mereka dipaksa untuk berpindah ke tempat dimana infra setruktur sangat tidak memadai. Disaamping ada penolakan yang semakin luas dari kebijakan ini. 

Sementara itu, sumber menyebutkan, warga Palestina yang tinggal di daerah-daerah terpencil di Nagev sangat memerlukan pelayanan sesuai undang-undang yang berlaku untuk hidup secara layak. Kondisi mereka tidak bisa dikait-kaitkan dengan masalah politik parkatis.

Persyaratan yang dibuat yang memberikan keutamaan bagi politik pemerintah yang menggunakan system diskriminatif terhadap hak hidup manusia. Dan dengan demikian keputusan aliran laluliintas air menjadi dalam satu sarana untuk memmbantu pemerintah, disamping sangat efektif untuk mengusir warga Palestina yang tinggal di pedalaman. Mereka tidak diberikan pelayanan mendasar, berupa aliran air bersih yang sangat diperlukan mereka.

Perlu disebutkan di sini, di Nagev ada sejumlah wilayah pertanian yag dimiliki beberapa orang hingga ribuan hektar luasnya. Di sana juga terdapat beberapa keluarga yahudi . Wilayah pertemuan ini dibangun tanpa izin tertulis dari pemerintahan. Dan ternyata pihak pemerinah tidak pernah melarang datangnya air ke wilayah iti, tidak sebagaimana diterapkan pada orang Arab yang tinggal di sana (ip/mj)sumber :suara-islam.com


Tag: suara-islam com

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    anti-fenomena 0 0
    kok humanis "P" jarang yang mampir ke lapak yg kaya gini ya?
    pall 0 0
    anti-fenomena: karena persoalan dalam negeri saja masih bertumpuk?

    Anda tahu nggak, warga Penjaringan, Jakarta Utara, yang tempatnya hanya beberapa kilometer saja dari pusat kekuasaan, setiap hari mengalami krisis air?
    anti-fenomena 0 0
    pall: ga ada batasan wilayah, agama, status sosial hanya untuk berempati kepada korban
    pall 0 0
    anti-fenomena: Kalau begitu saya yang salah menangkap maksud Anda.

    Jadi, apa yang Anda maksud dengan "lapak yang kaya gini"?
    anti-fenomena 0 0
    pall: lapak kaya gini = artikel ini, emang tafsir anda apa?
    pall 0 0
    anti-fenomena: Anda lucu sekali.

    "Orang kayak dia sih pantas dihajar" jelas tidak sama dengan "Dia pantas dihajar".

    "Dia pantas dihajar" berarti hanya "dia" yang pantas dihajar. Tapi "orang kayak dia", misal yang dimaksud adalah maling, berarti maling-maling lain juga pantas dihajar.

    Tapi apa gunanya saya memaparkan panjang lebar begini, kalau Anda memang berniat mengelak.
    pall 0 0
    anti-fenomena:

    [ kok humanis "P" jarang yang mampir ke lapak yg kaya gini ya? ]

    Lagipula kenapa Anda menggunakan kata "jarang". Lha wong kata "artikel ini" juga cuma satu.
    anti-fenomena 0 0
    pall: ya sudahlah.... prasangka... oh prasangka ........ jauhkan aku dari prasangka
    pall 0 0
    anti-fenomena:

    Ah, ad hominem.
    anti-fenomena 0 0
    pall: wkwkwwkwkwwkwkwwkwkwkwkwkwkwwkwkwk.... asli ente lucu banghettttttttt pake ad hominem
    Striding Cloud 0 0
    anti-fenomena:

    [_ kok humanis "P" jarang yang mampir ke lapak yg kaya gini ya? _]

    Mungkin karena mereka faham untuk tidak ikut campur urusan negara lain?

    Abis gimana ya, ngapain cape2 ngurus urusan internal sebuah negara yang jumlah penduduknya saja tidak sebesar jakarta, bahkan jika dibanding dengan jabodetabek, tak sampai separuhnya....

    ...Sedangkan di tempat kita saja masalah masih sangat banyak.

    Coba dibalik pemikirannya, kalau israel mengkritik kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani penduduknya sendiri, saya yakin bakalan ada demonstrasi besar2an di jalan.
    anti-fenomena 0 0
    Striding Cloud: saya ga masalahin itu bos, dan saya yakin sebagian besar dari kita ga bisa berbuat apa2 untuk merubahnya atau sekedar membantu .... cuma EMPATI bos, seperti komen saya di atas
    iloenx 0 0
    pall: Striding Cloud:
    entahlah, mungkin ada fallacy entah apa namanya. kalo gak ada komentar, maka dikatakan GAK ADA YANG MAMPIR. Padahal, kultur di mari, kadang kita sekadar mampir dan gelar tikar, jadi penonton sahaja.........

    lalu, kalo gak ada komentar, dikatakan GAK EMPATI. padahal kan empati (atau mungkin simpati, maksudnya) tak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata....... ; ))
    Striding Cloud 0 0
    anti-fenomena:

    Nahhh, yuk kita coba berempati sama warga negeri ini dulu, yang berpendapatan seperlima mereka, dan tidak mendapat bantuan dari organisasi internasional mana pun.

    Bahkan perorangan di gaza strip pun, rata-rata pendapatannya masih US$2900, di Indonesia, jumlah orang yang berpenghasilan seperempat dari itu, jumlahnya 20 kali lipat penduduk mereka.

    Masalah kita lebih besar, berempatilah pada orang kita dulu. Mereka masih sempat beli senjata, hukum supply demand menyatakan: kalau masih sanggup beli senjata, supplier air pasti masih bisa jualan air.
    anti-fenomena 0 0
    Striding Cloud: ayu bos... untuk berempati saya ga punya batasan.
    Striding Cloud 0 0
    anti-fenomena:

    Ya memang tidak perlu batasan, saya hanya bilang: mereka lebih mampu menolong diri mereka sendiri, hanya saja mereka lebih suka mengeluh. Tidak demikian dengan kita.

    iloenx: Istilahnya, "Ketiadaan bukti bukan berarti bukti ketiadaan".
    anti-fenomena 0 0
    iloenx: [alu, kalo gak ada komentar, dikatakan GAK EMPATI. padahal kan empati (atau mungkin simpati, maksudnya) tak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata.....] ANDA YANG NGOMONG YA? saya ga pernah bicara begitu, tolong jangan menjadi PROVOKATOR
    iloenx 0 0
    anti-fenomena: ANDA YANG NGOMONG YA?
    ====
    saya yang NULIS. Iya, betul.... tapi masak nulis begitu aja diwanti-wanti jgn jd PROVOKATOR???? ; ))

    Striding Cloud: "Ketiadaan bukti bukan berarti bukti ketiadaan"
    ===
    itu TM atau emang aksioma ya..... ; ))
    anti-fenomena 0 0
    Striding Cloud:baiklah, jika itu pendapat anda, dan biarkanlah saya tetap berempati kepada mereka.
    anti-fenomena 0 0
    iloenx: ela tapi are gelaga mikeh ngalu tekolok
    krisnov 0 0
    Kedzaliman ada dimana-mana, semoga Allah memberi kekuatan iman dan kesabaran bagi orang-orang yang terdzalimi. Amin.
    Agus PW 0 0
    Penulis artikel ini kok gak komentar ya? Memang gak harus komen sih, tapi kayaknya lebih baik komen agar kita yang disodori tulisan tahu maksud si penulis menanpilkan ini. Usul aja.
    iloenx 0 0
    Agus PW, mungkinkah penulisnya juga termasuk humanis P yg tak mau mampir di lapak seperti ini, seperti yg disinyalir bung anti-fenomena..... ?
    paimin 0 0
    Agus PW: iloenx: anti-fenomena: Striding Cloud: @pall: sudahlah artikel tukang copy paste aja di ributin, kali aja wadiyo nuduh kita semua ngga punya otak untuk menggunakan google untuk mencari informasi sesuai yang kita butuhkan, jadi dia sembarangan nye pam / nge junk disini.

    kalau dia punya ide dan punya yang buat mikir kenapa tidak tulis artikel sendiri,

    cape dehhhhh
    Harlan Eryandi 0 0
    paimin: : )): ))

    Silahkan login untuk memberikan pendapat