Belajar Kearifan Lokal 6

Selasa, 9 Feb '10 17:28

Di suatu sore yang cerah mantan murid saya sewaktu di SMA datang berkunjung .............

" Pak guru..... kelihatannya para elite kita itu sudah tercabut dari akar kebudayaan lokalnya .... malahan yang berasal dari Jawa sama sekali sudah tidak mengenal peribahasa Jawa.... apalagi filsafat Jawanya.... " demikian kata Hani mantan murid saya waktu SMA. Hani adalah sorang siswa yang lincah dan cerdas... hanya karena orang tuanya termasuk tidak kaya maka ia tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Sekarang dia sudah bekerja di Instansi pemerintah sebagai staf TU di SMP negeri.

" Lha iya.... memangnya ada apa... ? tanya saya.

" Itu lho pak ... sebagai orang Jawa saya kan jadi risih mendengar ucapan elite elite kita yang berasal dari Jawa... sama sekali nggak nyambung dan malahan membingungkan dan itu tidak hanya satu dua pak...." jawab Hani dengan nada jengkel. " Sabar anak manis.... coba berikan contohnya..... "  kataku

" Yang pertama itu lhoo pak.... Bapak sebagai guru Ekonomi kan mengajarkan bahwa Kedelai adalah bahan mentah untuk membuat tempe... artinya kalau kedelai bisa diolah menjadi tempe... itu kan namanya berhasil.

" Iya ... tapi apa hubungannya dengan elite politik kita.... "

" Itu Pak... para elite kita kalau memberi gelar bagi pemimpin  yang merupakan lawan politiknya yang lidahnya tak bertulang kok dengan istilah : Memang Pak X itu lidah tak bertulang.....atau kalau pagi kedelai kalau sore tempe itu kan terbalik dan salah besar... kalau kita mengatakan pagi kedelai sore tempe itu artinya kan bagus sekali... mengibaratkan satunya kata dengan perbuatan .... sedang untuk istilah mencla mencle atau lidah tak bertulang mestinya dengan istilah : Pagi tempe... sore kedelai...  artinya kata katanya kan mentah lagi .......iya nggak pak... ? kata Hani dengan nada kesal.

" Sabar anak manis.... mungkin elite kita terlalu bersemangat dalam berpidato sehingga tidak sadar kalau kata katanya terbalik... "

" Ya ndak Pak.... contohnya masih banyak.... " kata Hani semakin kesal.... " Apa itu Han..... ? "

" Pak SBY presiden kita itu kan orang Jawa to pak... tapi kok sepertinya tidak paham dengan filsafat Jawa...contohnya sewaktu para demonstran berdemo dengan membawa kerbau yang ditempeli dengan nama SBY.... seharus nya kan SBY merasa bangga....karena kerbau melambangkan binatang ternak yang membantu petani atau rakyat.... kuat bekerja tanpa pamrih dan tidak neko neko ( macam macam )... dan tidak berbahaya bagi umat manusia .... kok dia reaktip sekali..... apa dia lebih bangga dan menginginkan para demonstran membawa Singa yang ditempeli nama SBY.... itu kan kontra produktip pak.... "

" Haaa.... haaaa... haaaa.... kamu ada ada saja Hani....." jawabku

" Ya ndak pak .... saya kira elite elite kita ini memang tidak peka atau tidak tahu atau mungkin.... (ragu ragu )  bodoh ya pak...... ?

" Husss..... Hani kamu mulai ngawur ya.... kalau elite kita itu bodoh tak mungkin menjadi orang besar kan... ? "

" Tapi pak.... saya betul betul bingung... kok Kepolisian melambangkan dirinya sebagai buaya... sedang Kejaksaan Agung melambangkan dirinya sebagai godzila.... itu artinya kan mereka siap untuk memakan manusia manusia yang lemah yang tak dapat  mempertahankan diri

" Wah.... wah.... wah.... Hani kamu kok jadi marah marah seperti itu.... "

" Bagaimana tidak pak.... mereka sudah lupa tentang kearifan lokalnya ... malahan mungkin para elite kita ... kalau dikatakan sebagai " Tiwas kakehan gludhug... ning ora sido udan ( Sudah banyak bunyi guntur / petir tapi ndak jadi hujan ) mereka tidak akan marah  atau malu karena mereka memang tak tahu artinya.......padahal artinya :  banyak janji yang tak di penuhi

" Lha iya.... lalu keinginanmu itu bagaimana.... Han... "

" Begini lho pak ... saya hanya ingin elite elite kita yang menjadi pemimpin itu belajar filsafat kearifan... paling ndak kan ada falsafah kearifan lokal.... " " Misalnya apa Han... ?"

" Itu pak... kalau jadi pemimpin setidak tidak-nya kan membaca nasehat Sri Rama kepada Gunawan Wibisono sewaktu melantik Gunawan sebagai raja Alengka.... bahwa pemimpin harus bersifat seperti tanah, bersifat seperti air, bersifat seperti udara, bulan , matahari dan seterusnya...... saya kira itu saja sudah cukup sebagai bekal memimpin... " kata mantan murid itu dengan bersemangat.

Tapi pembicaraan kami jadi terganggu karena tiga cucu saya yang masih kecil kecil sedang bermain perang perang-an.

" Aku Buaya...... aku Singa..... aku Godzilla.... teriak mereka.... "

" Itu pak mereka adalah anak anak kecil ..... " kata Hani

Haaa.... haaaa... haaaa......


Tag: Kearifan Lokal

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    iloenx 0 0
    falsafah wayang itu kerarifan lokal atau kearifan impor, ya....... ; ))
    PakBodong 0 0
    Segala sesuatu yang sudah disuatu tempat selama ribuan tahun.... amat sulit untuk dikatakan sebagai impor.... demikian juga masalah kearifan....
    iloenx 0 0
    artinya, kalo bicara kearifan, label lokal atau impor itu kan gak penting lagi. kearifan bisa dari mana saja.....

    tapi memang istilah 'kearifan lokal' kadang terasa lebih seksi. ketika seseorang berperilaku tak sesuai dengan itu, maka 'dosa' psikologisnya terasa lebih nendang: wah, pemimpin A sdh betul2 lupa kearifan lokal....... ; ))
    PakBodong 0 0
    Boleh juga..... seperti agama... kalau sudah ditempat lain selama ribuan tahun ... maka sudah jadi agama lokal karena sudah bercampur dengan tradisi setempat... walaupun intinya tetap sama, misalnya Hindu Bali, Hindu India dll.
    em je 0 0
    dialog itu benar benar terjadi atau dialog imajiner anda?
    PakBodong 0 0
    Mas em je.... dialog itu benar terjadi.... obrolan ini saya rangkum sewaktu anak anak mengadakan reuni, kemudian sebagian mapir ketempat saya setelah reuni.... jadi tokoh Hani ( benar benar ada ) disini hanya mewakili jalan-nya ceritera.
    Salam kompasiana.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat