Ada Jin di Balik Tabungan Petani Rp 13 Triliun!? 14
Selasa, 9 Feb '10 18:09
sumber: Fajar
TULISAN ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya di Kompasiana, “Saldo Rekening Saya Bertambah Rp. 13 Triliun!”.
Terus terang saya masih merasa penasaran terutama dengan keterangan Koordinator Humas Bank Indonesia (BI) Makassar Widodo Cahyono tersebut yang terkesan meremehkan masalah ini. Dalam penjelelasannya, BI menganggap bahwa bertambahnya saldo H Alimin itu karena kesalahan petugas dalam mengentri data ke komputer. Katanya, pemeriksaan peneliti BI menemukan petugas Mandiri saat itu kebablasan mengetik angka nol yang sepatutnya hanya Rp 1.300.000 menjadi Rp 13.000.000.000.000. (lihat di SINI)
Yakinkan Anda ini salah ketik?
Terus terang, kalau saya sendiri merasa tidak yakin. Ketidakyakinan saya juga ternyata senada dengan berbagai komentar kompasianer dalam tulisan tersebut, salah satunya Fadli Noor. Dalam komentarnya Fadli merasa tidak yakin kalau itu adalah salah ketik dengan berdasar pada pengalamannya menangani IT perbankan.
Menurutnya kesalahan ketik dieliminasi dengan berbagai cara, antara lain :
1. Transaksi dengan jumlah tertentu, tunai maupun non tunai disetting sesuai tingkat kewenangan. Misalnya di atas 500jt, menggunakan otorisasi supervisor, di atas 2 M otorisasi manager operasional, >5 M oleh kepala cabang, bla bla dan seterusnya…
2. Secara berkala dilakukan cash-count. Biasana seminggu sekali, pencocokan transaksi dengan uang cash di ruang khasanah.
3. Transaksi transfer biasanya menggunakan account perantara (escrow account), meskipun tampak dari nasabah ke nasabah, tp pembukuannya melalui escrow account itu. Tujuannya apabila terjadi down server atau disconnect antara client & host, bisa langsung ditelusuri unbalanced yg ada di escrow account.
4. Setiap cabang biasanya memiliki aturan dana tunai yang boleh tersimpan di ruang khasanah, sisanya harus dikirim ke BI pada rekening kantor pusat. Biasanya cabang di daerah kalo ngga salah sampai 1 Milyar saja (mungkin sekarang sudah berubah). Jadi jika terjadi pencatatan setoran hingga 13 trilyun, pada tutup buku harian sistem langsung memberi warning bahwa uang cash yg ada telah melebihi aturan.
5. Apabila dana tersebut adalah dana transfer, harusnya itu tercatat dalam transaksi antar cabang, dan pasti juga akan muncul warning pada sistem yang ada di kantor pusat.
sumber: Fajar
“Jadi kalau hanya kesalahan input, kayaknya keterlaluan deh… apalagi untuk bank sebesar Bank Mandiri,” komentar Fadli.
Semestinya, Bank Indonesia jangan langsung mengklaim bahwa ini salah ketik. Kalau salah ketik, siapa yang melakukannya? Apa sanksinya?
Ini semua mesti jelas! Jika tidak, kesannya pihak bank mempermainkan nasabahnya. Alasannya adalah, sejak kasus ini diketahui 2 November 2008, dana H Alimin yang berjumlah Rp. 5,7 juta juga ikut terblokir. Bahkan saldonya sempat pula berganti menjadi minus Rp 9 triliun. Wowww…! Ada apa di balik ini?
Diunduh dari Google
Ini tentu tak bisa diangap sepele. Bagaimana seandainya kasus ini berdampak pada kejiwaan H Alimin? Pertanyaan ini penting karena banyak kasus gara-gara uang orang jadi gila. Mengetahui ada saldo “siluman” dengan jumlah yang triliunan begitu bisa saja mempengaruhi kejiwaan. Begitupula dengan mengetahui bahwa saldo itu ternyata minus triliunan. Jika tidak dijelaskan siapa yang menambah dan siapa yang mengurangi jumlah tersebut, maka jangan-jangan ini semua dilakukan oleh jin.
Pendek kata, ada jin di balik tabungan petani Rp 13 Triliun!?
Wallahua’lam bissawab
Ikuti juga tulisan Seksolog Mariska Lubis:
MERAIH PUNCAK KEPUASAN BERCINTA di SINI
Tag: mandiri, Kompasiana, jin, Andy Syoekry Amal, tabungan
Terkait:
-
Terang-Benderang Menohok SBY
Kamis, 18 Feb '10 06:31 -
Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
Rabu, 17 Feb '10 06:57 -
Kejatuhan SBY Tinggal Selangkah…
Selasa, 16 Feb '10 08:00
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
iloenx: Biasa
-
Olas: Menarik
-
Paul Oneil Simon: Menarik
-
Wonggantenk: Menarik
-
MFH: Biasa
-
ndableg: Menarik
-
Goku:
-
curly of kinky: Menarik
-
Harlan Eryandi: Biasa
-
yusro: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
kalo human error, emang mustahil, secara ada sistem otorisasi itu, kalo 5 M harus KACAB, maka Rp 1 Trilyun ke atas pastilah otorisasi DIRUT. Jadi mustahil itu terjadi.....
kasus itu saya kira lebih merupakan pelajaran bg semua bank, bahwa sepandai apapun tupai melompat, sekali waktu jatuh juga; secanggih apapun teknologi, sekali waktu error juga......
Maka cobalah realistis. sekali waktu, saat melakukan perkalian dg kalkulator, kita kadang juga menyaksikan error, ketika misalnya muncul hasil yg tak berhingga. Itu mungkin terjadi sekali dlm seribu atau selaksa perkalian.
Nah, kasus transaksi Rp 13 T itu juga langka banget. Kasus itu juga terjadi mungkin hanya sekali dalam selaksa atau sejuta transaksi. Namanya juga mesin. masak ga bisa salah....
Tapi, begitulah Indonesia: banyak terjadi keanehan...
aku liat di TV kodenya 99, kalau gak salah artinya transfer. untuk menerima transfer harus ada yang mengirim. bisa di telusuri pengirimnya dari mana ? dan dari pak tani itu terus di kirim kemana ??
ada kemungkinan salah input no. rekening pd saat transfer, yang harusnya untuk pak rani (misalnya) karena terselip satu angka, nyampenya ke pak tani
kemungkinan salah input no. rekening spertinya kecil, karena dalam no. rekening perbankan, sudah ada satu angka untuk cek digit, sehingga jika ada kesalahan, misalnya terselip satu angka , otomatis proses transfer akan gagal.. Dan mengutip pendapat bung fadli noor di point pertama, selalu ada tingkatan otorisasi untuk masing2 tingkatan nominal transfer..
tetapi, kalo money laundry, itu mengandaikan ada mafia, dan bagi akan lebih mudah membuka rekening2 atas nama org2 yg bisa dikontrol dibanding menggunakan acoount petani lugu........ apa sih susahnya buka rekening di bank bagi jaringan mafia monye laundry?
Silahkan login untuk memberikan pendapat